PLN Konversi PLTD ke PLTS di 200 Lokasi, Butuh Duit Rp 100T!

Jakarta, CNBC Indonesia – PT PLN (Persero) berencana mengkonversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) ke energi baru terbarukan (EBT) di 200 lokasi untuk tahap pertama. Upaya ini dilakukan demi bisa mendongkrak target bauran energi baru terbarukan menjadi 23% pada 2025 mendatang.

Direktur Mega Project PT PLN (Persero) M. Ikhsan Asaad dalam konferensi pers secara virtual, Senin (02/11/2020) mengatakan bahwa konversi diesel ke EBT ini selaras dengan komitmen permerintah dalam mendorong bauran energi.

“Jadi, prioritas kami memang total ada 2.130 lokasi diesel di seluruh Indonesia, itu kurang lebih 2 giga watt (GW) menjadi prioritas kami mengkonversi ke pembangkit EBT,” jelasnya kepada wartawan pada Senin (02/11/2020).

Ikhsan menjelaskan, dari 2.130 lokasi PLTD, dipilih 200 lokasi terlebih dahulu dengan beberapa kriteria, di antaranya yaitu mesin-mesinnya sudah berusia 15 tahun, lokasi terisolasi, dan biaya pokok produksinya tinggi. Adapun kapasitas pembangkit listrik di 200 lokasi yang akan dikonversikan tersebut mencapai 225 MW.

“Kami prioritaskan 200 lokasi pertama. Kalau ditanya penghematannya, kami belum lihat karena kami baru launching dan kita buka silahkan perusahaan pengembang mana pun itu boleh mengikuti dan kita buka,” tuturnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, 200 lokasi yang dikonversi pertama ini bakal menggunakan tenaga matahari dan akan digabungkan dengan baterai. Dia menegaskan, biayanya akan lebih murah dibandingkan menggunakan diesel.

Hal ini menurutnya dikarenakan bila menggunakan diesel biayanya mencapai Rp 4.000 per kWh. Dengan mengonversi PLTD menjadi PLTS ini menurutnya setidaknya keuntungan yang didapatkan antara lain dapat mengurangi impor BBM, menekan biaya pokok produksi, dan layanan listrik 24 jam bagi masyarakat.

“Di 200 lokasi pertama ini kita forward looking, dulu hybrid biaya operasional tinggi. Sekarang kami konsepnya ke depan kita tidak hybrid, kita pasang solar PV dengan kapasitas di atas kebutuhan masyarakat di sana. Ditambah baterainya bisa 24 jam lebih karena kita juga dorong ekonomi di sana bisa tumbuh,” jelasnya.

Ikhsan menegaskan, ke depan konversi tidak hanya terbatas pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Dikonversi ke PLTS ini karena setelah dilakukan survei di 200 lokasi ini ternyata memang layak untuk PLTS.

Tahap kedua nantinya menurutnya akan berkembang, misalnya dengan sumber biomassa, mini hydro, dan bayu, sehingga tidak terbatas pada PLTS, tapi juga berkembang ke energi lainnya. Sebanyak 200 lokasi yang akan dikonversi direncanakan akan mulai masuk proses lelang di Desember 2020.

“Selesai (pembangunan) dan mulai Commercial Operation Date (COD/ beroperasi) pada 2022. Kira-kira butuh setahun untuk membangun ini,” ujarnya.

Dia mengatakan, belanja modal yang dibutuhkan untuk proyek ini yaitu sekitar Rp 100 triliun. Perkiraan nilai investasi itu didapat dari asumsi pembangunan per 1 kWh dibutuhkan sekitar 22 sen dolar, lalu dikalikan 4, maka kebutuhan dana sekitar Rp 100 triliun lebih. Namun dia menegaskan, perkiraan nilai investasi ini masih berupa hitung-hitungan kasar yang dia lakukan.

“Kita kerja sama dengan Asian Development Bank (ADB) untuk sustainability financing proyek EBT. Sekarang bangun batu bara sulit, EBT mudah,” tuturnya.

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengatakan dari total rencana 2.130 lokasi tersebut, terdapat sebanyak 5.200 unit mesin PLTD. Nantinya semua akan dikonversi menjadi EBT secara bertahap dengan kapasitas mencapai 2 GW. Tahap pertama di 200 lokasi PLTD dengan kapasitas 225 MW.

Tahap kedua, kapasitas 500 MW, dan tahap ketiga dengan potensi sampai dengan 1.300 MW. Zulkifli optimis melalui program konversi ini masyarakat di pulau kecil bakal merasakan manfaatnya.

“Di antaranya manfaat ketersediaan listrik dengan energi bersih ramah lingkungan dalam skala lokal. Kemudian, manfaat terus tumbuh, komoditas andalan dari daerah tersebut akan jadi faktor ekonomi utama di waktu mendatang,” paparnya.

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/