Sumber Energi Sukses Makmur bidik kontrak 100 MW PLTS di tahun ini

PT Sumber Energi Sukses Makmur (SESM) tengah giat mengembangkan bisnis listrik energi terbarukan, khususnya melalui pembangunan dan pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Direktur Utama SESM Zulfian Mirza mengungkapkan, pada tahun ini pihaknya membidik sejumlah kontrak PLTS, baik yang lahan maupun atap. Zulfian bilang, total kapasitas PLTS yang ditargetkan bisa diraih dari sejumlah proyek itu mencapai 100 Megawatt (MW).

Kontrak pertama yang ditandatangani SESM adalah pembangunan dan pengoperasian PLTS Musi Green Hybrid berkapasitas 10,5 MW dengan PT Golden Blossom Sumatra, perusahaan perkebunan sawit di Sumatera Selatan. Kontrak tersebut diteken pada Kamis (27/2).

Zulfian menyebut, kapasitas PLTS yang bekerjasama dengan Golden Blossom ini akan bertambah secara bertahap hingga mencapai 20 MW. “Kontrak baru dengan Golden Blossom ini merupakan salah satu rangkaian proyek SESM untuk membangkitkan sekitar 100 MW listrik dari PLTS pada tahun ini,” kata Zulfian saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (1/3).

Ia pun membeberkan sejumlah potensi PLTS yang tengah diincar oleh SESM, “Ada beberapa rencana proyek PLTS atap rumah dan PLTS lahan bekas tambang yang masih dalam tahap negosiasi,” ungkapnya.

Sebaran potensi tersebut ialah PLTS di Toba, Sumatera Utara dengan potensi 40 MW, PLTS Rooftop Galangan Kapal di Batam sebesar 5 MW, dan PLTS rooftop yang tersebar di sejumlah wilayah dengan total potensi sekitar 20 MW.

Selain itu, sambung Zulfian, pihaknya juga tengah menjajaki kontrak PLTS yang berlokasi di wilayah bekas lahan tambang, yakni di salah satu tambang yang berada di Sulawesi dengan potensi sekitar 15 MW hingga 20 MW.

Namun, Zulfian belum membuka detail potensi nilai kontrak atau besaran investasi dari sejumlah proyek tersebut. Hanya saja, Zulfian memberikan gambaran, nilai investasi yang dianggarkan SESM untuk PLTS Musi Green Hybrid 10,5 MW berkisar di angka US$ 18 juta juta.

“Dengan perkiraan itu, berarti 100 MW berkisar US$ 180 juta,” sebutnya.

Zulfian menyebutkan, besaran investasi itu bergantung dari kapasitas pembangkit serta tarif dan volume listrik yang dihasilkan. “PLTS yang kapasitas lebih besar akan sedikit berkurang capex-nya, rata-rata sebesar angka di atas. Nilai kontrak juga sangat bergantung tarif dan volume listriknya, ada yang pasang 20 jam konstan sehari, ada yang siang aja, bervariasi,” terangnya.